Newslan.id Merangin. Indonesia masih memiliki ketergantungan impor yang cukup tinggi pada beberapa bahan komoditi strategis, terutama untuk memenuhi kebutuhan pangan dan bahan baku industri. Berdasarkan data per 2025-2026, berikut adalah komoditi utama yang tergantung impor:
1. Komoditi Pangan (Pertanian & Peternakan)
Gandum: Seluruh kebutuhan gandum diimpor karena tidak dapat ditanam di Indonesia.
Kedelai: Ketergantungan impor sangat tinggi untuk bahan baku tempe dan tahu, dengan produksi lokal yang masih rendah.
Gula (Mentah/Kristal): Diimpor untuk kebutuhan konsumsi dan industri makanan/minuman.
Bawang Putih: Kebutuhan dalam negeri sebagian besar masih didatangkan dari luar negeri.
Daging Sapi & Kerbau: Diimpor untuk memenuhi konsumsi, terutama saat permintaan tinggi.
Beras: Diimpor untuk menjaga stok nasional dan stabilitas harga.
Susu & Hasil Susu: Masih bergantung pada impor untuk industri pengolahan susu.
Garam: Diimpor terutama untuk kebutuhan industri.
2. Komoditi Industri, Energi, dan Bahan Baku
Bahan Bakar Minyak (BBM): Impor minyak mentah dan bahan bakar masih tinggi seiring dengan pertumbuhan konsumsi.
Mesin & Peralatan Mekanik: Komponen industri, mesin produksi, dan alat berat banyak didatangkan dari Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan.
Elektronik & Suku Cadang: Smartphone, komputer, dan mesin elektronik.
Bahan Baku Plastik: Diimpor untuk kebutuhan industri kemasan dan peralatan rumah tangga.
Besi dan Baja: Digunakan untuk mendukung sektor konstruksi dan infrastruktur.
Farmasi & Bahan Baku Obat: Sebagian besar bahan aktif obat masih impor.
Pupuk: Beberapa jenis pupuk tertentu.
Negara Asal Impor Utama: Tiongkok, Jepang, Thailand, Amerika Serikat, dan Korea Selatan. (Redaksi)


