Newslan.id Dunia itu bergerak rasional. Kalau ada bisnis yang terlalu mudah, modal dengkul untung segunung, sebaiknya curigai bisnis itu. Sebab uang bergerak gak semudah pidato.
Siapa yang gak ngiler. Investasi dapur Rp2 miliar. Seluruh biaya operasional ditanggung pemerintah. Setiap hari pemilik dapur dapat jatah Rp6 juta. Setahun sekitar Rp1, 8 miliar.
Bahkan aliran duit itu gak berhenti meskipun dapur kena suspend.
Itu baru dari fee. Belum lagi dari ngutip jatah makan. Katakanlah belanja perompreng Rp15 ribu, dicopet 5 ribu. Kalikan 3000 ompreng sehari. Range duit dari nyopet makanan ini bisa Rp3 sampai Rp8 miliar setahun.
Makanya pengusaha berduyun-duyun mau bangun dapur. Jika harus nyogok lisensi Rp300 juta, itu angka kecil. Dadan dan kawan-kawan tahu banget.
Tapi pesta gak berlangsung selamanya. Bisnis yang terlalu mudah, sesungguhnya cuma fatamorgana. Ketika tawaran-tawaran kemudahan hari ini ketemu kenyataan, pengusaha dapur puyeng.
Hari ini, budget BGN sedang diplototi. Perilaku petingginya sedang dilucuti. Duit negara juga gak banyak-banyak banget. Malah cekak. Nah, kucuran duit ke dapur gak seindah air terjun Ciparai. Kini tersendat. Bahkan kering.
Dapur-dapur MBG hari ini banyak yang kolaps. Pengusaha yang dapurnya belum jalan jejeritan. Pengusaha lain yang dapurnya masih jalan, tetap joget-joget. Tapi saya pikir, joget-joget itu maksimal paling setahun. Setelah itu, semua mesti rasional.
Saya perkirakan fenomena dapur MBG juga akan menimpa Kopdes Merah Putih. Setahun lagi, dari puluhan ribu Kopdes yang berdiri, masih jalan separuhnya saja sudah prestasi banget. Jika pun jalan, gak sampai 10%-nya bisa hidup normal. Selebihnya asal jalan saja. Asal ada. Asal bapak senang.
Kenapa? Banyak alasannya. Singkatnya secara bisnis KDMP itu gak rasional. Mana ada koperasi sistem topdown begitu? Belum apa-apa, sudah nangung utang mobil buatan India. Biaya pembangunan prasarana Rp1, 6 ditilep separuh.
Lokasi seringkali jauh dari pemukiman karena ngandelin tanah gratis. Kesan kekuasaan yang kuat membatasi publik sebagai calon konsumen untuk mendekat.
Beda dengan dapur MBG yang dimodali swasta. KDMP modalnya dari pinjaman bank dengan dana desa sebagai agunan. Karena secara rasional peluang bisnisnya jalan hanya secuil, mungkinkan besar dana desa akan habis membayar utang KDMP. Buat desa, hanya tinggal lembaran kuitansi saja. Duitnya hanya numpang lewat doang.
Semua irasionalitas ini dengan sendirinya akan menyerah pada kenyataan.
āļø Eko Kunthadi


