Merangin Newslan.id. Perayaan kemerdekaan yang seharusnya menjadi momentum perenungan atas kedaulatan rakyat sering kali tersisa sebagai panggung riuh penuh simbolik. Di jalan-jalan, bendera merah-putih berkibar gagah, namun di balik hiruk-pikuk pesta rakyat itu, terselip narasi ironis yang semakin hari semakin nyata: politik kebangsaan yang bergeser menjadi panggung teater, sirkus, dan dagelan.
Visual figur-figur bertopeng karikatural dengan ekspresi konyol, mulut menjulur, dan gestur berlebihan di tengah perayaan kemerdekaan adalah alegori yang sangat pas untuk menggambarkan realitas politik hari ini. Topeng-topeng itu bukan sekadar hiburan jalanan, melainkan cermin dari perilaku sebagian oknum elit dan pejabat publik yang mengandalkan "pencitraan" untuk menutupi ketidakmampuan serta kerakusan kekuasaan.
Dalam panggung politik modern, topeng adalah alat utama. Di hadapan kamera dan masyarakat, para oknum pejabat kerap menampilkan gestur jenaka, retorika manis, atau akting seolah peduli pada rakyat kecil. Namun, di balik topeng ramah itu, kebijakan yang lahir sering kali kontradiktif dengan kebutuhan publik.
Kemerdekaan yang diraih dengan darah dan pengorbanan para pahlawan kini seolah direduksi menjadi komoditas elektoral. Perilaku oknum politik yang tertangkap kamera berbuat aneh, membuat keputusan absurd, atau bertindak sewenang-wenang menunjukkan betapa jabatan publik tidak lagi dipandang sebagai amanat yang sakral, melainkan sekadar panggung komedi tempat mereka tertawa di atas penderitaan rakyat.
Hal yang paling tragis dari panggung sirkus politik ini adalah posisi rakyat. Dalam sistem demokrasi, rakyat seharusnya berada di panggung utama sebagai penentu arah bangsa. Namun dalam praktiknya, rakyat kerap digeser hanya sebagai penonton di pinggir jalan—mereka yang diminta bertepuk tangan, dihibur dengan bagi-bagi hadiah murah, lalu dilupakan begitu pesta usai.
Gestur figur bertopeng yang menjangkau ke depan seolah hendak menangkap atau menunjuk penonton mempertegas posisi tersebut: rakyat tidak hanya dijadikan objek tontonan, tetapi juga bahan lelucon. Janji-janji manis menjelang pemilu menguap begitu saja, digantikan oleh kebijakan yang mencekik ekonomi warga, sementara para pemangku kebijakan terus melakoni peran mereka tanpa rasa malu.
Masyarakat tidak boleh terus-menerus membiarkan diri menjadi penonton yang tertawa di tengah ironi. Menertawakan tingkah konyol para oknum pejabat mungkin memberikan katarsis sesaat, namun itu tidak mengubah keadaan jika tidak diiringi dengan kesadaran kritis.
Kemerdekaan sejati baru akan terwujud ketika rakyat berani membongkar topeng-topeng kepura-puraan tersebut. Sudah saatnya panggung politik dibersihkan dari "badut-badut" kekuasaan yang rakus, dan dikembalikan kepada esensinya: sebuah ikhtiar bersama untuk mewujudkan keadilan sosial, kesejahteraan, dan martabat bagi seluruh rakyat Indonesia.
Redaksi


