Newslan.id Duh, tak habis-habis tikus got gorong-gorong. Setelah Wamen Imitas dikandangin, giliran Bupati Muara Enim Sumsel besera 9 orang ditangkap KPK lewat OTT. Siapa sang Bupati yang mencoreng warga Wong Kito ini? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Dulu kita disuguhi kisah bak dongeng seribu satu malam versi birokrasi. Seorang putra terbaik Banuayu lahir pada 6 Maret 1968. Namanya H Edison, SH M Hum. Gelarnya panjang, kalau ditulis di belakang truk mungkin catnya habis duluan sebelum sampai titik terakhir.
Riwayat hidupnya juga bukan kaleng-kaleng. Sarjana Hukum Universitas Sumatera Utara tahun 1992. Magister Humaniora Universitas Sriwijaya tahun 2003. ASN BPN sejak 1995. Pernah menjadi Kepala Bidang Pengadaan Tanah dan Pengembangan Kanwil BPN Sumsel. Lalu pensiun dini demi mengabdi kepada rakyat. Masuk Partai NasDem. Bertarung di Pilkada Muara Enim 2024. Menang telak dengan 114.258 suara atau 38,76 persen. Dilantik langsung Presiden Prabowo pada Februari 2025 sebagai Bupati Muara Enim periode 2025-2030.
Lengkap sudah. Kalau CV beliau dijadikan sinetron, judulnya mungkin, "Dari Pengadaan Tanah Menuju Pengadaan Harapan."
Istri tercinta, Hj. Heni Pertiwi Edison, S.Pd., juga mendampingi sebagai Ketua TP PKK. Penghargaan datang bertubi-tubi. Penghargaan Pembangunan Daerah terbaik dari Bappenas. BAZNAS Awards sebagai kepala daerah pendukung zakat. Ketua Majelis Pembimbing Pramuka. Bahkan menyediakan 58 hektar lahan untuk Bumi Perkemahan.
Hobinya berkebun. Ya, berkebun. Kalimat ini penting karena nanti terasa seperti plot twist film India yang disutradarai tukang bakso. Rakyat pun bersorak. "Inilah pemimpin idaman!" Sosok sederhana. Dekat dengan tanah. Dekat dengan rakyat. Dekat dengan cangkul. Dekat dengan tanaman.
Lalu...Brakkkk! Pada Senin, 8 Juni 2026, KPK datang lebih cepat dari kurir paket saat kita sedang di kamar mandi. Operasi Tangkap Tangan!
Sepuluh orang diamankan. Lima dari lingkungan Pemkab Muara Enim, termasuk sang bupati. Lima lagi dari pihak swasta. Kantor Dinas Pendidikan langsung disegel. Ruang perencanaan disegel. Ruang sarana prasarana disegel. Ruang keuangan disegel.
Lengkap. Kalau kantor itu manusia, mungkin sudah teriak, "Pak, saya cuma gedung, jangan libatkan saya dalam drama ini!"
Dugaan yang beredar? Penerimaan sesuatu yang haram dari pihak swasta di lingkungan pemerintah daerah. Nah loh. Di sinilah rakyat mulai garuk-garuk kepala sampai hampir menemukan sinyal WiFi.
Bagaimana ceritanya seorang Sarjana Hukum malah tersandung persoalan hukum? Bagaimana ceritanya seorang Magister Humaniora malah diduga terjebak urusan yang bikin nilai kemanusiaan mendadak pingsan? Bagaimana ceritanya seorang Ketua Pramuka yang mestinya mengajarkan kejujuran malah membuat publik bertanya-tanya seperti peserta kuis yang kehilangan kunci jawaban?
Ini seperti tukang servis AC yang rumahnya sendiri kepanasan. Seperti dokter gigi yang ompong. Seperti penjual payung yang kehujanan. Terlalu absurd untuk ditelan tanpa air mineral.
Yang lebih bikin rakyat pengin salto sambil menangis adalah waktunya. Baru beberapa bulan menjabat! Belum sempat rakyat hafal seluruh program kerja, eh sudah muncul episode OTT. Ini bukan periode pemerintahan. Ini trailer yang langsung lompat ke adegan klimaks.
Padahal 114.258 warga sudah memberikan suara. Itu bukan angka kecil. Itu harapan. Itu kepercayaan. Itu doa yang dicoblos di bilik suara.
Kini rakyat hanya bisa menunggu KPK membongkar semuanya sampai ke akar-akarnya. Jangan cuma petik daun. Jangan cuma potong ranting. Cabut sekalian tunggulnya kalau memang terbukti ada kebusukan di dalamnya.
Sebab Muara Enim butuh pemimpin, bukan pesulap. Butuh pelayan rakyat, bukan kolektor masalah. Butuh orang yang menanam kesejahteraan, bukan menanam kecurigaan.
“Bang, kasihan juga ya, belum kembali modal udah ditangkap. Nampaknya doa wakil terkabul lagi ni.”
“Sepertinya gitu, wak. Tunggu dulu, emang wakil apaan sih, wakil rakyat?” Ups
✍️ Rosadi Jamani


