NEWSLAN ID MERANGIN - Kenaikan harga BBM non subsidi seperti Dexlite, Pertamina Dex, dan Pertamax Turbo dalam beberapa bulan terakhir langsung terasa di sektor transportasi darat. Tarif operasional bus Antar Kota Antar Provinsi [AKAP] dan truk ekspedisi naik signifikan, membuat banyak sopir dan pengusaha angkutan mengeluh pendapatan tidak sebanding dengan biaya.
Dexlite yang banyak dipakai truk dan bus medium naik dari kisaran Rp 13.000-an ke atas Rp 15.000 per liter. Sementara solar subsidi yang harganya masih ditahan, kuotanya terbatas dan sering antre panjang di SPBU.
Harga BBM mulai berlaku sejak penyesuaian terbaru dari PT Pertamina (Persero). Berikut adalah daftar lengkap harga BBM Pertamina di Jambi sebagai perbandingan:
Pertalite: Rp10.000 per liter
Biosolar: Rp6.800 per liter
Pertamax: Rp12.600 per liter
Pertamax Turbo: Rp20.350 per liter
Dexlite: Rp26.600 per liter
Pertamina Dex: Rp28.500 per liter
Imbas ke Transportasi Darat,
1. Bus AKAP
Pengusaha PO. Putra Remaja mengaku tidak bisa langsung menaikkan tarif karena takut ditinggal penumpang. Hasilnya, margin menipis. Beberapa rute panjang seperti Yogyakarta- Rimbo Bujang atau sebaliknya.
“Solar Dexlite boros di tanjakan. Sekali jalan Yogyakarta-Rimbo Bujang bisa habis berapa juta cuma buat BBM. Tiket naik Rp 50 ribu saja penumpang protes,” kata Yanto seorang kru bus AKAP di Rumah Makan Pak Lan Pamenang Merangin Jambi.
2. Truk Ekspedisi,
Truk logistik yang mengandalkan Dexlite untuk performa mesin modern juga terpukul. Ongkos kirim per km naik, tapi banyak klien belum mau menyesuaikan harga kontrak. Sopir sering menerima upah tetap walau waktu tempuh bertambah karena harus antre BBM subsidi.
Sopir Menangis, Bukan Gaya Bahasa, Keluhan “sopir menangis” bukan sekadar istilah. Di lapangan, banyak sopir freelance yang pendapatannya turun karena potongan operasional lebih besar. Ada yang sampai menunda kirim uang ke keluarga di kampung karena setoran ke pemilik truk naik.
Beban ganda juga datang dari biaya tol, perawatan kendaraan, dan pungli di jalan yang belum hilang. Untuk truk tua yang boros solar, selisih biaya dengan Dexlite bisa mencapai Rp 1 juta per perjalanan.
Upaya yang Sudah dan Bisa Dilakukan,
- Penyesuaian tarif bertahap: Beberapa PO bus dan ekspedisi mulai menerapkan surcharge BBM, tapi transparansi ke konsumen jadi kunci.
- Optimasi rute dan muatan, Mengurangi perjalanan kosong dan memaksimalkan tonase muat agar BBM lebih efisien.
- Dorongan pemerintah, Pengusaha minta kuota solar subsidi diperluas untuk kendaraan angkutan umum dan logistik, serta pengawasan distribusi diperketat agar tidak bocor.
- Alih teknologi, Perusahaan besar mulai uji coba truk dengan standar Euro 4 yang lebih hemat, tapi butuh investasi besar yang belum terjangkau sopir mandiri.
Kenaikan BBM non subsidi memang mengikuti harga minyak dunia, tapi efek berantainya langsung menyentuh rantai logistik dan mobilitas masyarakat. Kalau biaya transportasi naik terus tanpa solusi, harga barang dan jasa di daerah juga ikut terdorong.
Menurut H Sukarlan SE dari Lembaga Perlindungan Konsumen Nusantara Indonesia (LPKNI) , Pemerintah harus mengambil langkah apa yang paling mendesak biar sopir dan pengusaha kecil nggak makin tercekik: subsidi diperluas, tarif dinaikkan, atau efisiensi operasional.
"Pemerintah wajib dan harus segera mengambil langkah yang berpihak kepada rakyat kecil, yang merupakan tulang punggung peredaran ekonomi tingkat akar rumput" ucapnya.
"Hal ini sangat ditunggu dan diharapkan dapat oleh para sopir bus AKAP maupun truk ekspedisi"tambahnya.
" Kalau terkait BBM seperti ini tidak segera di ambil langkah cepat, efeknya harga sembako naik, harga tiket bus juga mau ngga mau melambung "tutupnya.(red)


