Penulis: Nurul Azizah
Newslan.id . Belum selesai netizen 62 membicarakan kiai cabul asal Pati Jawa Tengah, muncul Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI dengan juri dan MC yang tidak pecus dalam memberikan penilaian. Yang namanya lomba cerdas cermat itu pesertanya dalam kondisi ON atau konsentrasi tinggi dan siap menjawab setiap pertanyaan dari MC (Master of Ceremony).
Juri juga siap menangkap setiap peserta yang menjawab dengan lantang dan cepat. Kan sudah ada contekan jawaban yang dipegang Juri. Mengapa masih saja tidak adil dalam memberikan nilai? Lomba ini diselenggarakan secara terbuka, disaksikan banyak orang dan terekam kamera. Jangan sampai juri terkesan tidak siap dan kurang fokus dalam menyimak serta mendengarkan jawaban peserta. Akibatnya sangat fatal tidak saja ke peserta tapi berbalik arah menyerang juri dan MC nya sendiri.
Penulis dulu sering ikut lomba cerdas cermat dari tingkat SD, SMP, SMA hingga ketika jadi pendidik sering membimbing siswanya untuk ikut lomba cerdas cermat. Biasanya tema lomba disiapkan oleh panitia dan bahkan materi sudah ada kemudian diberikan kepada siswa peserta lomba. Berdasarkan pengalaman pribadi dan saat membimbing siswa, materi demi materi dipersiapkan sedemikian rupa, dihafalkan betul poin-poin penting dari materi yang akan dilombakan. Semua peserta dalam satu sekolah memiliki kemampuan menghafal dan saling melengkapi.
LCC di Kalimantan Barat, Sabtu 9 Mei 2026 sudah bagus dengan peserta siap menjawab.
Di sisi lain juri tidak siap menilai dan tidak menguasai materi. Juri tidak bisa membedakan antara kata : "Dewan Perwakilan Daerah dan DPD" serta dewan juri lain menjelaskan penilaian didasarkan adanya kejelasan artikulasi. "Artikulasi itu penting, dinilai dari yang terdengar jelas", kata Indri Wahyuni.
Menurut penulis kata 'Dewan Perwakilan Daerah' itu sudah jelas dan yang memiliki kuping normal maknanya jelas, mengapa kelompok SMAN 1 Pontianak (C2) dikasih nilai minus (-) 5. Sedangkan siswa SMAN 1 Sambas (B4) menjawab 'DPD' malah dikasih nilai plus 10. Eh setelah dicermati dari video yang beredar kelompok C2 dituduh oleh juri Dyastasita yang ternyata ada kelainan pendengaran. "Tadi dewan juri berpendapat tidak ada kata DPD tapi DPR".
Apa bedanya Dewan Perwakilan Daerah dan DPD, itu jawaban yang sama-sama benar, beda pengucapan saja. Ini tidak lomba baca tulis Al-Qur'an dimana lafal huruf demi huruf harus sesuai dengan ejaan dan tata bahasa yang benar. Selain juri yang tidak cerdas dan tidak cermat ada juga MC yang lantang ikut menilai. "Baik adik-adik, mohon diterima keputusan dewan juri, karena dewan juri yang hadir ini sudah sangat berkompeten dan sangat teliti untuk mendengarkan jawaban dari adik-adik, itu mungkin perasaan dari adik-adik saja, mungkin nanti bisa dilihat tayangan ulang setelah acara selesai", kata MC yang belakangan diketahui bernama Shindy Lutfiana.
Peserta C2 protes atas jawaban yang benar malah disalahkan dan dikasih nilai minus 5. Yang sabar ya dek, juri kamu adalah orang pintar se-Indonesia yang cerdas dan cermat. Kamu adalah salah satu permata di tengah-tengah mafia juri dan MC yang tidak layak dan tidak kompeten di bidangnya. Peserta dari SMAN 1 Pontianak (C2) sudah memenangkan hati seluruh rakyat Indonesia. Walau protesmu tidak diterima oleh dewan juri, tapi kalian memenangkan pertarungan yang sebenarnya.
Kalian kalah tidak apa-apa, tapi kamu menang di mata rakyat Indonesia. Seluruh masyarakat Indonesia menyaksikan.
Dari kegiatan lomba LCC 4 pilar MPR RI di Kalimantan Barat, Sabtu 9 Mei 2026 banyak yang harus dipelajari oleh dewan juri dan MC. Gara-gara keputusan yang kalian lakukan namamu tercoreng di mata rakyat Indonesia. Catat nama-nama yang tercoreng atas kejadian ini. Juri 1 : Indri Wahyuni, S.IP., M.A, juri 2 : Dra. Triyatni, juri 3 : Dyastasita WB, S.Sos sedangkan MC nya Shindy Lutfiana dan Said Ahmad (sumber IG). Semoga ke depannya kalau ada lomba cerdas dan cermat diharapkan juri dan MC nya juga cerdas dan cermat bukan sebaliknya.
Nurul Azizah penulis Buku Dari Perempuan NU Untuk Indonesia.


