JAKARTA, NewsIan.id – Rupiah melemah mendekati Rp17.900 per dolar AS bikin khawatir harga BBM subsidi ikut naik. Tapi pemerintah buru-buru menenangkan: pasokan energi aman, harga Pertalite dan Solar masih bisa ditahan.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung bilang, pemerintah sudah siapkan jurus khusus hadapi tekanan kurs. Kuncinya dua: genjot produksi minyak dalam negeri dan siapkan kilang nasional full power.
“Untuk kenaikan harga BBM subsidi, perhitungan kami masih ditopang oleh peningkatan produksi dalam negeri yang terus didorong. Selain itu, kilang-kilang di dalam negeri juga sudah kami siapkan,” kata Yuliot di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat 29/05/2026.
Data pasar spot Jumat sore mencatat rupiah di Rp17.880/USD. Level ini rawan bikin biaya impor minyak dan BBM jebol, karena transaksi pakai dolar. Makin lemah rupiah, makin mahal bayar impornya.
Itu yang bikin publik waswas harga Pertalite dan Solar bakal naik. Tapi Yuliot menegaskan, impor bukan satu-satunya tumpuan. “Langkah tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap impor energi yang rentan terdampak fluktuasi kurs dolar AS,” jelasnya.
Kabar baiknya, Yuliot memastikan stok BBM nasional saat ini masih di atas batas minimal cadangan operasional. Pertalite dan Solar CN48 disebut aman. Artinya, buat beberapa minggu ke depan pasokan tidak masalah.
Pemerintah optimistis kombinasi 3 hal ini bisa jadi tameng:
1. Produksi minyak domestik naik
2. Kilang dalam negeri siap olah
3. Cadangan BBM cukup
Tiga jurus itu diyakini mampu nahan efek pelemahan rupiah ke harga BBM subsidi, sekaligus jaga pasokan energi buat masyarakat tetap stabil.
Redaksi


