NewsIan.id Banyuwangi – Pelemahan rupiah yang menyentuh level Rp17.861 per dolar AS mulai memakan korban. Pelaku usaha kecil yang bergantung bahan baku impor kini kelimpungan. Salah satunya perajin tahu di Banyuwangi, Jawa Timur.
Harga kedelai impor melonjak dari Rp8.500 menjadi Rp10.500 per kilogram dalam lima bulan terakhir. Kenaikan Rp2.000/kg itu langsung menghantam dapur produksi. “Nggak kuat. Dolar naik, kedelai ikut naik. Listrik juga naik. Kami kejepit,” kata Slamet, 54, perajin tahu di Rogojampi, Rabu 28/05/2026.
Akibat biaya produksi bengkak, sebagian perajin pilih jalan pahit: memperkecil ukuran tahu. Menaikkan harga jual bukan opsi. Daya beli warga masih loyo. “Kalau harga dinaikin, nggak laku. Konsumen kabur. Akhirnya tahu kami potong lebih kecil biar harga tetap Rp500,” ujar Slamet.
Data Dinas Koperasi dan UMKM Banyuwangi mencatat, sejak Januari 2026 sudah ada 17 perajin tahu-tempe skala rumahan yang tutup. Penyebab utama: margin keuntungan tipis, tergerus harga kedelai dan tarif listrik.
Indonesia memang belum swasembada kedelai. Setiap tahun butuh impor 2,2 hingga 2,6 juta ton. Ironisnya, hampir 90% pasokan datang dari Amerika Serikat. Artinya, tiap rupiah melemah, harga kedelai di pabrik tahu langsung ikut goyang.
“Selama kita masih impor, pengusaha kecil jadi korban pertama kalau dolar naik,” kata Eko Listiyanto, Pengamat INDEF. “Rp17.861 ini level psikologis. Kalau tembus Rp18.000, bisa banyak UMKM pangan yang kolaps.”
Selain kedelai, kenaikan tarif listrik industri kecil ikut menambah beban. Perajin butuh listrik untuk menggiling kedelai dan merebus. Tagihan yang biasanya Rp1,2 juta/bulan kini naik jadi Rp1,5 juta.
“Dulu untung Rp50 ribu sehari masih dapet. Sekarang Rp20 ribu aja susah. Banyak teman sudah banting setir jadi kuli bangunan,” keluh Suminah, 47, perajin tahu di Genteng.
Asosiasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Aptindo) Banyuwangi mendesak pemerintah segera intervensi. Ada 3 tuntutan: stabilisasi harga kedelai impor, subsidi listrik UMKM pangan, dan percepatan tanam kedelai lokal.
Jika tidak, dikhawatirkan tahu-tempe, lauk utama rakyat, bakal makin mahal dan langka. “Jangan sampai tahu yang harusnya jadi sumber protein murah malah jadi barang mewah,” tegas Ketua Aptindo Banyuwangi, H. Misno.
Hingga berita ini turun, rupiah bertengger di Rp17.861/USD menurut data Bloomberg. BI belum memberi sinyal intervensi besar. Sementara di pasar Rogojampi, ukuran tahu makin menciut, tapi antrean pembeli juga ikut menyusut.(Agus)


