MERANGIN, NEWSIAN.ID ā Di tengah klaim pemerintah yang sibuk menggembar-gemborkan kesejahteraan, nasib petani kelapa sawit di Kabupaten Merangin justru makin tragis. Mereka kini tidak hanya berjuang melawan kepungan harga pupuk yang mencekik leher, tetapi juga diduga kuat menjadi "sapi perahan" dalam lingkaran setan mafia timbangan dan potongan liar.
Praktik culas ini seolah dibiarkan tumbuh subur tanpa tersentuh hukum. Para petani swadaya di Bumi Tali Undang Tambang Teliti dipaksa pasrah menyaksikan hasil keringat mereka dirampok secara terang-terangan, mulai dari timbangan tingkat tengkulak hingga ke jembatan timbang Pabrik Kelapa Sawit (PKS).
Sudah menjadi rahasia umum di lapangan bahwa timbangan milik oknum tengkulak atau pemilik RAM di beberapa kecamatan seperti Pamenang dan Tabir diduga kuat sudah "disekolahkan" alias diakali. Modus timbangan gantung dan penyusutan sepihak membuat tonase buah petani berkurang drastis secara ajaib dalam hitungan detik.
Belum selesai di tingkat bawah, "perampokan" gaya baru kembali menyambut petani di pintu gerbang PKS. Pihak manajemen pabrik dengan seenak jidat menerapkan potongan (refraksi) raksasa yang seringkali menembus angka di atas 10 persen dengan dalih klasik: buah kurang matang atau tangkai panjang.
"Ini bukan lagi potongan administrasi, ini pemerasan berkedok regulasi! Buah kami disunat di timbangan bawah, begitu sampai pabrik, duit kami digunting lagi lewat potongan raksasa. Kami kerja siang malam hanya untuk mengenyangkan perut para pemilik modal," cetus seorang petani sawit Merangin dengan emosi meluap-luap.
Melihat kondisi yang kian darurat ini, publik mempertanyakan keberadaan Dinas Perkebunan (Disbun) serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Merangin. Ke mana larinya fungsi pengawasan yang selama ini digembar-gemborkan? Apakah harus menunggu para petani jatuh miskin berjamaah baru mereka bertindak?
Masyarakat menilai kedua dinas ini terkesan mandul dan tutup mata. Disperindag melalui UPTD Metrologi Legal dituding sengaja membiarkan jembatan timbang PKS dan RAM beroperasi tanpa tera ulang yang ketat. Sementara Dinas Perkebunan terkesan ciut menghadapi keangkuhan pihak korporasi PKS yang melanggar Permentan terkait batasan potongan buah.
Sabar ada batasnya. Ribuan petani sawit di Merangin kini mendesak Pemkab Merangin untuk segera mengirim tim gabungan guna melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) total tanpa bocor.
Rakyat tidak butuh seremonial atau rapat-rapat tidak bermutu di hotel mewah. Yang dibutuhkan adalah tindakan konkret: bawa tim tera, cek timbangan RAM dan PKS secara mendadak, dan jika terbukti ada kecurangan, tangkap pelakunya dan cabut izin usahanya hari itu juga!
Jika Disbun dan Disperindag Merangin masih tetap bungkam dan enggan turun ke lapangan, maka wajar jika masyarakat berasumsi bahwa ada "main mata" atau setoran pelicin yang mengalir ke kantong para pemangku kebijakan. (Red/Tim Investigasi Merangin)



