JAMBI, NEWSLAN.ID — Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al-Ikhlas Mapolda Jambi pada pelaksanaan Salat Jumat (11/09/2026). Khotib Ustadz Fadhil Almariji, M.Pd., menyampaikan khotbah mendalam yang mengajak seluruh jamaah untuk melakukan introspeksi diri (muhasabah) di tengah berbagai fenomena bencana alam yang melanda tanah air sepanjang tahun 2025 hingga September 2026.
Dalam uraiannya, Ustadz Fadhil menguraikan fakta dinamika alam yang tengah dihadapi masyarakat, mulai dari banjir bandang di Sumatera Barat dan Aceh, krisis air bersih, ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, hingga peningkatan status aktivitas erupsi puluhan gunung berapi di Indonesia. Beliau menegaskan bahwa berbagai peristiwa ini pada hakikatnya tidak terlepas dari hukum sebab-akibat yang melibatkan aktivitas manusia serta ketetapan Sang Pencipta.
Mengutip dalil Al-Qur'an surah Ar-Rum ayat 41, khotib menjelaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat perbuatan tangan manusia sendiri. Fenomena tersebut mengandung tiga dimensi spiritual bagi umat yang beriman:
Ujian Keimanan (Ibtila’): Sarana untuk menguji sejauh mana hamba Allah tetap bersyukur dan konsisten dalam keimanan di tengah situasi sulit.
Teguran Kasih Sayang: Peringatan agar manusia menyadari hakikat dirinya yang diciptakan semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT (QS. Az-Zariyat: 56), bukannya membuat kerusakan atau melupakan Sang Pencipta.
Pesan Cinta Ilahi: Cara Allah memanggil kembali hamba-Nya yang mulai berpaling agar kembali mendekatkan diri kepada-Nya.
Sebagai pijakan dalam menghadapi situasi tersebut, khotib memaparkan tiga langkah strategis yang patut diterapkan oleh setiap muslim:
Mempertebal Kesabaran dan Keteguhan Hati Menghadapi rasa takut, krisis pangan, maupun kekurangan harta dengan melapangkan dada. Mengukuhkan kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya (Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un), sebagaimana dijanjikan dalam Al-Qur'an bahwa orang-orang yang sabar akan memperoleh keberkahan, rahmat, dan petunjuk.
Memperbanyak Tobat yang Sungguh-Sungguh (Taubatan Nasuha) Menyadari kekhilafan dan memohon ampunan secara totalitas atas segala maksiat yang pernah dilakukan, guna meredam murka Ilahi dan mengundang kembali pemeliharaan-Nya.
Merutinkan Istighfar dan Mengencangkan Doa Mengoptimalkan doa sebagai senjata utama umat beriman (ad-du'a silahul mu'min). Khotib menegaskan bahwa istighfar yang dilazimkan secara konsisten akan membuka jalan keluar dari setiap kesukaran.
Guna memperkuat pesan tersebut, khotib menyampaikan kisah teladan mengenai ulama besar Imam Ahmad bin Hanbal dan seorang pembuat roti. Ketekunan sang pembuat roti dalam melafalkan istighfar pada setiap helai aktivitasnya menjadi wasilah dikabulkannya doa yang telah lama diidamkan, yakni dipertemukan langsung dengan Imam Ahmad melalui takdir yang tidak terduga.
Khotbah diakhiri dengan ajakan untuk menjadikan setiap ujian sebagai pemantik semangat perbaikan diri, mempererat tali ketakwaan, serta menjauhi segala larangan Allah SWT demi menjemput keselamatan di dunia dan akhirat.
Redaksi


