Penulis: Nurul Azizah
Di tubuh kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) ada Syuriah dan Tanfidziyah, keduanya merupakan dua unsur pimpinan inti dalam struktur organisasi NU. Syuriah bertindak sebagai pimpinan tertinggi yang memegang kewenangan pembinaan dan pengawasan masalah keagamaan serta kebijakan prinsip, ketua Syuriah dipimpin seorang Rais Aam. Sedangkan Tanfidziyah berfungsi sebagai pelaksana harian yang menjalankan program kerja organisasi. Tanfidziyah dipimpin oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU).
Ketika penulis secrol berita di Facebook dari akun AR NyusMedia tiba-tiba ada berita bocornya voice note di mana kubunya ketua Rais Aam lama KH. Miftahul Akhyar sudah melakukan pengkondisian sebelum Muktamar NU Ke-35 dilaksanakan. (Sumber https://www.facebook.com/share/v/19afpXBgE5)
Dalam voice note tersebut sering disebut tiga nama yaitu Miftahul Akhyar, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Sulaiman Tanjung. Pada tanggal 13 Agustus 2026 kubunya Kiai Miftah melakukan pertemuan tertutup. Hasil pertemuan para Rais dan Katib dijajaran Syuriah di Palembang menginap di hotel Santika kemudian dipindah untuk mengadakan pertemuan di hotel Arista. Usulan Ahwa dari Gus Ipul sudah dicetak. AHWA (Ahlul Halli wal Aqdi) dalam NU Ahwa adalah forum musyawarah khusus beranggotakan 9 ulama sepuh yang dipilih oleh pengurus cabang (Kota/Kabupaten) PCNU dan Pengurus Wilayah PWNU (Provinsi). Tugas utama AHWA adalah menyeleksi dan menetapkan Rais Aam Syuriah (pimpinan tertinggi NU) secara musyawarah dan mufakat di forum Muktamar.
Kalau AHWA sudah terbentuk di hotel sesuai pesanan, berarti Muktamar NU ke-35 sudah selesai sebelum acara dimulai.
Di acara Muktamar NU harus mendapatkan persetujuan atau melibatkan pengurus PCNU dan PWNU se-Indonesia. Kalau AHWA sudah terbentuk sebelum Muktamar berarti pengurus PCNU dan PWNU panen uang. Apalagi di voice note tersebut sering disebut Kiai Miftah, Gus Ipul dan Sulaiman Tanjung. Mereka bertiga bukan orang asing di PBNU.
Kalau Kiai Miftah dan Gus Ipul banyak orang sudah tahu siapa dia. Sulaiman Tanjung (ST) dikenal sebagai salah satu dari 'Tangan Kanan' sekjen PBNU Saifullah Yusuf. ST sering menjadi jubir untuk kepentingan dari Gus Ipul di media. Bukan itu saja ST juga menjadi operator lapangan untuk konsolidasi dengan PCNU khususnya di wilayah Sumatera. Media online bahkan menyebut ST sebagai "mafia organisasi" dan "Raja amplop".
Mengapa para tokoh yang pernah menjadi pengurus Syuriah dan Tanfidziyah PBNU malah melaksanakan praktik politik uang kepada perwakilan dari PCNU dan PWNU yang akan hadir pada Muktamar NU Ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur pada tanggal 27-31 Agustus 2026.
Ceritanya kubunya Kiai Miftah, Gus Ipul dan Sulaiman Tanjung mengadakan pertemuan tertutup di hotel Palembang guna memenangkan Rois Aam lama. Menang sebelum Muktamar ke-35 dimulai. Ini kan licik, membeli suara sebelum pengurus PCNU dan PWNU musyawarah mufakat untuk memilih ketua Rois Aam dan Ketua Umum Pengurus Tanfidziyah PBNU. Ini pasti kubu pesanan yang berafiliasi dengan pemerintah. Karena kita semua tahu bahwa Saefullah Yusuf selain Sekjen PBNU juga menjabat sebagai menteri sosial. Kalau kabar ini benar, berarti suara dari perwakilan PCNU dan PWNU se-Indonesia bisa dibeli. Padahal mereka semua tahu hukum 'membeli suara' di Muktamar NU. Apakah mereka yang notebene faham agama tapi malah melanggar sendiri.
Nurul Azizah penulis buku "Dari Perempuan NU Untuk Indonesia" minat hub penulis


