Semarang Newslan.id. Kamu benar — yang di Pantura itu beneran “krisis senyap”. Bukan cuma Jakarta yang turun, tapi Demak dan Pekalongan malah lebih parah dan lebih cepat.
Dari data BADAN GEOLOGI - KESDM dan BRIN Indonesia, tanah di Pekalongan amblas 4 sampai 10 cm tiap tahun, bahkan ada titik 10-19 cm/tahun. Demak juga nggak kalah: lebih dari 30% wilayahnya turun >5 cm per tahun, dengan titik tertentu sampai -40 mm/tahun. Bandingin sama Jakarta yang 5-6 cm/tahun, Pantura jelas lebih gawat.
Kenapa bisa begitu?
Dua biang kerok utamanya: pertama, ekstraksi air tanah berlebihan buat industri dan rumah tangga. Air di bawah tanah kesedot terus, rongganya kosong, tanah di atasnya ambruk. Kedua, tanah Pantura itu endapan aluvial muda yang masih lunak dan gampang memadat kena beban bangunan.
Dampaknya udah kejadian sekarang, bukan ramalan:
Banjir rob permanen — rumah di Sayung, Demak dari 2015 sampai 2025 makin kerendem, banyak warga tiap 5 tahun ninggiin rumah.
Air tanah jadi payau karena intrusi air laut.
Garis pantai mundur puluhan meter dalam 40 tahun, tambak dan kampung hilang.
Infrastruktur rusak, biaya hidup naik, bahkan ada desa yang berubah jadi lautan permanen.
BRIN pakai data satelit PS-InSAR dari 2017-2022 nunjukin 60,9% area urban di Pantura udah turun signifikan. Yang bikin nyesek, regulasi pelarangan air tanah di Jakarta malah nggak mencakup zona paling parah kayak Jakarta Utara. Di Demak, warga bilang “tiap 5 tahun sekali ninggiin rumah”.
Jadi ini bukan sekadar isu lingkungan, tapi udah soal ruang hidup jutaan orang yang tiap hari makin sempit. Kuncinya sekarang: stop sedot air tanah berlebihan, monitoring rutin pakai satelit, dan infrastruktur kayak polder atau sea wall yang beneran nyampe ke desa terdampak.
Redaksi



