BANGKO, NEWSLAN.ID — Sebagai salah satu kabupaten terluas di Provinsi Jambi, Kabupaten Merangin dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa. Dinamika ekonomi di bumi Tali Undang Tambang Teliti ini selalu menarik untuk dibedah. Jika kita berbicara tentang penggerak utama roda perekonomian masyarakat hari ini, perdebatan sering kali mengerucut pada beberapa sektor: Kelapa Sawit, Kopi, dan realitas sosial-ekonomi yang tak bisa ditampik, yakni PETI (Pertambangan Emas Tanpa Izin).
Mari kita bedah secara jernih dan akurat bagaimana komoditas dan sektor ini saling berkelindan membentuk potret ekonomi Merangin saat ini.
1. Kelapa Sawit: Sang Primadona Dataran Rendah
Bagi masyarakat Merangin di wilayah eks-transmigrasi seperti Kecamatan Pamenang, Bangko Barat, hingga Tabir, kelapa sawit adalah "raja". Sektor perkebunan sawit rakyat maupun korporasi merupakan penyumbang likuiditas (perputaran uang) terbesar secara harian dan mingguan.
Ketika harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit stabil tinggi, pusat-pusat perbelanjaan di Kota Bangko dipastikan ramai. Sawit terbukti menjadi motor penggerak ekonomi yang masif karena melibatkan puluhan ribu tenaga kerja, mulai dari petani, pemanen, hingga sopir truk angkutan.
2. Kopi Robusta & Arabika: Nafas Ekonomi Dataran Tinggi
Bergeser ke wilayah dataran tinggi seperti Jangkat, Lembah Masurai, dan Muara Siau, komoditas Kopi (khususnya Robusta dan kini Arabika Jangkat) adalah urat nadi kehidupan. Kopi Merangin bukan sekadar komoditas lokal, melainkan produk unggulan yang telah menembus pasar nasional hingga internasional.
Sifat panen kopi yang musiman membuat karakter ekonominya berbeda dengan sawit. Namun, sekalinya musim panen raya tiba dengan harga jual yang bagus, daya beli masyarakat di wilayah pegunungan ini melonjak drastis. Kopi adalah simbol ketahanan pangan dan ekonomi sosiologis masyarakat asli Merangin.
3. Fenomena PETI: "Pemanis" Instan yang Menyimpan Bom Waktu
Kita tidak boleh menutup mata dari realitas lapangan. Sektor non-formal dan ilegal seperti PETI (Pertambangan Emas Tanpa Izin) selama bertahun-tahun menjadi salah satu perputar uang tercepat di beberapa wilayah Merangin. Harus diakui secara objektif, PETI sempat mendongkrak daya beli instan di tingkat akar rumput.
Namun, menempatkan PETI sebagai fondasi penggerak ekonomi adalah kekeliruan besar. PETI bukanlah sektor yang berkelanjutan (sustainable). Di balik perputaran uangnya yang tampak menggiurkan, ada harga mahal yang harus dibayar: kerusakan lingkungan yang masif, hilangnya lahan pertanian produktif (banyak sawah beralih fungsi menjadi lubang jarahan), serta konflik sosial. PETI adalah ekonomi semu yang sewaktu-waktu bisa runtuh oleh penegakan hukum dan habisnya cadangan alam.
4. Sektor Pendukung: UMKM, Jasa, dan ASN
Selain tiga sektor di atas, roda ekonomi Merangin juga dijaga oleh geliat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta sektor jasa di pusat kota. Keberadaan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Merangin juga menjadi penjamin stabilitas konsumsi pasar domestik regional.
Catatan Redaksi Newslan.id:
Masa depan ekonomi Merangin yang berkelanjutan tidak berada di dasar lubang-lubang PETI, melainkan di hamparan kebun sawit yang dikelola secara baik dan suburnya tanaman kopi di perbukitan Jangkat.
Tantangan terbesar Pemerintah Kabupaten Merangin ke depan adalah bagaimana melakukan hilirisasi (pengolahan produk mentah menjadi barang jadi) untuk sawit dan kopi, sekaligus memberikan solusi alternatif (transformasi mata pencaharian) bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor PETI agar beralih ke sektor pertanian atau peternakan yang legal dan ramah lingkungan.
Hanya dengan cara itulah, ekonomi Merangin bisa tumbuh secara akurat, kokoh, dan berkeadilan bagi generasi mendatang.



