Newsan.id Padang. Wacana pengembangan angkutan umum aglomerasi PALAPA (Padang–Lubuk Alung–Pariaman) merupakan langkah strategis Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam mengintegrasikan tiga wilayah utama di pesisir barat.
Aglomerasi ini dirancang untuk menjawab kebutuhan mobilitas lintas wilayah yang kian kompleks seiring pertumbuhan penduduk, aktivitas ekonomi, dan pariwisata.
Berdasarkan data terbaru tahun 2024–2025, luas kawasan aglomerasi PALAPA mencapai sekitar 2.101,37 km². Kota Padang sebagai pusat administrasi dan ekonomi memiliki luas 694,34 km². Kabupaten Padang Pariaman, termasuk pusat pertumbuhan Lubuk Alung seluas 124,76 km² mencakup wilayah 1.342,27 km², sementara Kota Pariaman sebagai simpul pariwisata dan perdagangan pesisir memiliki luas 64,76 km².
Pengembangan Kawasan Metropolitan Padang telah lama menjadi bagian dari kebijakan tata ruang daerah, sebagaimana tercantum dalam RTRW Provinsi Sumatera Barat Tahun 2012–2032 (Perda Provinsi Sumatera Barat Nomor 13 Tahun 2012) dan kembali diperkuat dalam Ranperda RTRW Provinsi Sumatera Barat Tahun 2023–2043. Secara sektoral, pengembangan Kawasan Aglomerasi PALAPA juga termuat dalam Dokumen Tatanan Transportasi Wilayah (Tatrawil) Provinsi Sumatera Barat yang disusun oleh Dinas Perhubungan.
Komitmen pemerintah daerah terhadap transportasi publik secara nasional kian menguat. Hingga saat ini, setidaknya 12 pemerintah provinsi telah mengalokasikan APBD untuk subsidi angkutan umum. Berbagai sistem transportasi publik pun tumbuh dan berkembang, seperti Trans Jakarta, Trans Koetaradja, Trans Jateng, Trans Jogja, Trans Jatim, Trans Siginjai, Trans Metro Dewata, Trans Banjarbakula, Trans Sulsel, Jabar Metro Trans, hingga Trans Banten. Fakta ini menegaskan bahwa subsidi transportasi publik bukan lagi kebijakan eksperimental, melainkan kebutuhan dasar kawasan perkotaan dan aglomerasi.
Kondisi eksisting angkutan umum
Saat ini, konektivitas di wilayah aglomerasi PALAPA ditopang oleh layanan Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dengan koridor utama Kota Padang–Lubuk Alung–Kota Pariaman. Trayek ini melayani jalur strategis melalui Pauh Kamba, Sicincin, hingga pusat ekonomi Kota Pariaman. Selain itu, terdapat pula layanan angkutan perdesaan Lubuk Alung–Batas Kota Padang.
Di kawasan yang sama, beroperasi satu rute angkutan bus perintis, yaitu rute Pariaman–Kuraitaji–Pauh Kambar–Parit Malintang–Kantor Bupati Padang.
Dari sisi moda rel, kawasan PALAPA dilintasi jaringan rel aktif sepanjang 107,221 km, dengan lintas nonaktif 245,893 km, lintas penumpang 87,489 km, dan lintas barang 14,572 km. Layanan kereta api yang beroperasi meliputi KA Pariaman Ekspres, KA Sibinuang, dan KA Lembah Anai.
Hasil kajian
Berdasarkan hasil kajian Balitbang Provinsi Sumatera Barat Tahun 2024, pengembangan angkutan aglomerasi PALAPA difokuskan pada empat koridor utama dengan total panjang sekitar 122 km yang menghubungkan Padang, Padang Pariaman, dan Pariaman.
Koridor pertama membentang dari Terminal Anak Air (Padang)–Sicincin via Lubuk Alung sepanjang 33,2 km. Koridor kedua, sebagai rute terpanjang, menghubungkan Terminal Anak Air–Pasar Rakyat Pariaman via Ketaping sepanjang 36,4 km. Koridor ketiga melayani rute Parit Malintang–Pariaman sejauh 30,4 km, sementara koridor keempat menghubungkan Sicincin–Pariaman via Sungai Sariak sepanjang 22,5 km.













