KERINCI NEWSLAN.ID – Paru-paru dunia di tanah Sumatra sedang sekarat, dan hukum tampaknya memilih untuk menutup mata. Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), tepatnya di hulu Batang Penetai, kaki Gunung Mandi Urai, Kabupaten Kerinci, kini luluh lantak. Ironisnya, pelaku pengrusakan ini bukanlah warga lokal, melainkan gerombolan penjahat Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) dari luar daerah yang datang hanya untuk mengeruk keuntungan, lalu pergi meninggalkan kehancuran.
Hutan adat dan kawasan konservasi yang seharusnya dilindungi kini berubah menjadi hamparan tanah mati penuh lubang merkuri. Kerusakan ekologis yang mereka timbulkan tidak bisa sembuh dalam satu atau dua tahun—butuh waktu puluhan, bahkan ratusan tahun untuk memulihkan ekosistem yang telah hancur total ini.
Modus para cukong dan pelaku PETI ini terbilang sangat licik dan semena-mena. Mereka menyusup ke zona inti, membabat vegetasi, meracuni aliran sungai Batang Penetai yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat, mengantongi miliaran rupiah, lalu melenggang pergi tanpa beban.
Masyarakat Kerinci-lah yang harus menanggung getahnya. Ancaman banjir bandang, krisis air bersih, hingga hilangnya keanekaragaman hayati kini membayang-bayangi masa depan anak cucu di kaki Gunung Mandi Urai.
"Mereka datang membawa alat berat dan bahan kimia, merampok kekayaan alam kami, lalu pergi begitu saja. Kami yang tinggal di sini hanya diwarisi bencana," ujar salah satu warga dengan nada geram.
Melihat skala kerusakan yang begitu masif, publik mempertanyakan di mana taji aparat penegak hukum? Respons dan tindakan yang diambil dinilai sangat lambat alias lemot. Ketika ada pelaku yang berhasil ditangkap, ketuk palu di meja hijau justru terasa seperti lelucon. Hukuman yang dijatuhkan terlampau ringan dan sama sekali tidak memberikan efek jera.
Jika dihitung secara materi, kerugian negara untuk memulihkan (restorasi) kerusakan lingkungan ini jauh berkali-kali lipat lebih besar dibanding nilai denda yang dijatuhkan pengadilan kepada para perusak. Hukum seolah tumpul di hadapan para mafia tambang emas ilegal ini.
Ketika keadilan manusia mulai meragukan dan hukum formal tak lagi bertaji melindungi alam, masyarakat hanya bisa bersandar pada keadilan langit. Doa-doa keputusasaan sekaligus kemarahan kini menggema dari bibir masyarakat adat Kerinci.
Semoga Allah SWT mengazab dan melaknat para perusak di muka bumi ini, baik para pelaku di lapangan maupun para cukong dan oknum yang membentengi mereka.
Jika hukum dunia tak mampu menyeret mereka ke balik jeruji besi dengan adil, biarlah hukum alam dan pengadilan Tuhan yang membalas kehancuran yang mereka tebar di bumi Sakti Alam Kerinci. (Newslan.id)



