Oleh: Willy Rizkiqia
Sebuah ironi besar sedang terjadi di atas tanah tempat kita hidup hari ini. Ketika mesin-mesin pengeruk tanpa izin (PETI) mulai masuk, membongkar tanah, meracuni aliran sungai, dan merobek urat-urat nadi alam, banyak orang terdiam. Bahkan, tidak sedikit yang membela mereka dengan satu tameng klasik yang seolah tidak bisa didebat: "Mereka hanya sekadar cari makan."
Atas nama isi perut dan tuntutan ekonomi, kerusakan alam massal dimaklumi, dinormalisasi, bahkan kadang dipuji sebagai bentuk "perjuangan hidup".
Namun, mari lihat apa yang terjadi ketika kami, masyarakat Serampas, berdiri di garis depan untuk membentengi tanah leluhur kami. Ketika kami memperketat aturan adat, menjaga hutan larangan, dan menolak eksploitasi demi memastikan mata air kami tidak berubah menjadi air tuba, reaksi yang kami terima justru sebaliknya. Banyak orang yang tidak suka. Kami dituduh egois, menutup diri, bahkan dicap "membeda-bedakan suku, ras, dan golongan."
Sungguh sebuah logika yang aneh dan terbalik.
Mengapa perusak lingkungan yang merampas hak masa depan generasi penerus dipandang dengan rasa maklum, sementara kami yang berdarah-darah menjaga keseimbangan bumi justru dicela dan disudutkan? Apakah menjaga warisan alam agar tetap lestari kini telah bergeser maknanya menjadi sebuah dosa sosial?
Tuduhan rasisme atau eksklusivitas yang dialamatkan kepada kami sesungguhnya hanyalah tameng defensif dari mereka yang kepentingannya terganggu oleh ketegasan adat. Perjuangan kami menjaga alam sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebencian terhadap suku atau ras lain. Ini adalah tentang kehormatan, tentang tanggung jawab moral kepada bumi yang kami pijak. Karena kami tahu, jika alam ini hancur, bencana tidak akan pernah memilih-milih suku atau ras mana yang akan ia tenggelamkan.
Dicela atau dijauhi karena mempertahankan kebenaran bukanlah hal yang menyenangkan. Namun, di tengah dunia yang mulai kehilangan kompas moralnya, pilihan kami sudah bulat. Kami tidak akan mundur hanya karena label-label negatif yang sengaja diciptakan untuk melemahkan semangat ini.
Biarlah orang berkata apa. Biarlah arus egoisme sesaat mengalir deras di luar sana. Kami, masyarakat Serampas, akan tetap berdiri kokoh. Kami tetap pilih jadi penjaga, bukan perusak...!!! Karena bagi kami, menjaga alam adalah menjaga kehidupan itu sendiri.



