Oleh: Willy Riziqia
Merangin Newslan.id — Hari pertama masuk sekolah yang seharusnya menjadi momen penuh tawa dan antusiasme bagi anak-anak, belakangan ini kerap menyisakan luka psikologis yang mendalam bagi sebagian murid. Fenomena ini memicu kritik pedas dari seorang penulis dan pengamat sosial, Willy Riziqia, yang opininya mendadak viral dan memantik diskusi hangat di kalangan pendidik serta orang tua.
Willy menyoroti maraknya kebijakan atau gerakan sekolah yang secara kaku mewajibkan atau mengampanyekan kehadiran figur "ayah" saat mengantar anak di hari pertama sekolah. Lewat tulisan yang menyentuh hati sekaligus menampar realitas, ia mengingatkan para pembuat kebijakan agar tidak melupakan anak-anak yang sedang berjuang di tengah keterbatasan struktur keluarga.
Dalam opininya yang beredar luas di media sosial, Willy menegaskan bahwa dirinya tidak menolak adanya aturan yang bertujuan membangun kebersamaan. Namun, ia menyayangkan jika aturan tersebut dibuat tanpa memedulikan dampak psikologis bagi anak-anak yang sudah kehilangan orang tua.
"Peraturan boleh dibuat untuk kebersamaan, tapi jangan sampai melukai yang sedang berjuang sendiri. Anak yatim bukan tidak punya ayah. Ayahnya dipanggil Allah lebih dulu. Hari pertama sekolah harusnya jadi hari bahagia, bukan hari di mana dia ditanya 'mana ayahmu?'" tulis Willy.
Kritik ini menyasar pada realitas di lapangan di mana visualisasi "keluarga ideal" (ayah, ibu, anak) sering kali dipaksakan dalam kegiatan seremonial sekolah. Akibatnya, anak-anak yang kursinya kosong saat upacara atau tidak didampingi figur ayah kerap kali mendapatkan pertanyaan tidak peka yang membuka kembali trauma kehilangan mereka.
Willy juga memberikan analogi menohok mengenai kebijakan yang menutup mata terhadap keberagaman kondisi murid. Menurutnya, memaksakan kehadiran ayah sebagai tolak ukur semangat anak ke sekolah adalah bentuk diskriminasi terselubung.
"Kebijakan tanpa empati itu seperti undangan pesta... tapi yang diundang cuma yang punya pasangan lengkap. Bagaimana dengan anak yatim? Apakah lukanya harus dibuka lagi di hari pertamanya sekolah?" ungkapnya penuh sesal.
Melalui tulisan tersebut, Willy mewakili suara ribuan ibu tunggal (single mother), kakek-nenek, maupun wali murid yang selama ini berjuang sendirian membesarkan anak yatim atau piatu. Ia mendesak agar instansi pendidikan lebih bijak dan inklusif dalam memilih diksi. Alih-alih mengunci syarat kehadiran pada kata "Ayah", sekolah diharapkan menggunakan istilah yang lebih universal, yaitu "Orang Tua atau Wali".
Opini viral dari Willy Riziqia ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan kita. Niat baik untuk meningkatkan keterlibatan ayah (father involvement) dalam pengasuhan anak tentu patut diapresiasi. Namun, eksekusinya di lapangan tidak boleh mengorbankan perasaan anak-anak yang tidak seberuntung murid lainnya.
Sekolah sudah sepatutnya menjadi tempat pertama yang menyembuhkan dan merangkul semua anak, bukan justru menjadi tempat yang mengasingkan mereka sejak hari pertama melangkah masuk kelas. Kebijakan yang baik adalah kebijakan yang lahir dari rahim empati, bukan sekadar pemenuhan formalitas administratif yang minim kemanusiaan. (Red)



