PALANGKA RAYA NEWSLAN.ID — Sikap dan peryataan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kalimantan Tengah, Reza Prabowo, menuai kritik keras publik setelah videonya yang mengaitkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta kantin sekolah viral di media sosial. Klarifikasi yang disampaikan kemudian justru dinilai makin memperjelas lambatnya kepedulian pejabat daerah terhadap ancaman nyata kesehatan anak-anak sekolah di tengah kepungan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pernyataan yang menyinggung dampak PJJ terhadap dapur MBG mencerminkan kekeliruan fatal dalam menentukan prioritas keselamatan publik. Ketika paru-paru ribuan siswa terancam oleh paparan racun asap karhutla, pertimbangan logistik program makan gratis atau omzet kantin seharusnya sama sekali tidak berada di meja perdebatan. Menjadikan dampak operasional program lain sebagai alibi kelambatan penanganan darurat asap adalah bentuk insensitivitas birokrasi yang membahayakan generasi muda.
Klarifikasi Kadisdik yang terkesan berbelit-belit dan sibuk membentengi diri dengan urusan formalitas administrasi—seperti menunggu Surat Edaran atau mengulur waktu demi kajian teknis Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU)—menunjukkan sikap defensif yang tidak perlu. Di tengah situasi darurat bencana alam dan krisis kualitas udara:
Keselamatan Jiwa Adalah Hukum Tertinggi: Menunda diskresi meliburkan sekolah atau menerapkan PJJ hanya demi formalitas "payung hukum" saat asap tebal sudah kasat mata menyerang pernapasan siswa adalah tindakan yang abai terhadap keselamatan.
Skala Prioritas yang Terbalik: Kesehatan Paru-paru siswa dan hak mereka atas udara bersih tidak boleh disandera atau dibanding-bandingkan dengan kelancaran skema penyerapan anggaran program makan gratis.
Birokrasi pendidikan di Kalimantan Tengah didesak untuk menghentikan retorika dan pembelaan diri. Pemerintah daerah harus menunjukkan kepemimpinan yang tegas dan berpihak penuh pada kesehatan anak didik, tanpa perlu menunggu desakan publik atau keributan di media sosial hanya untuk meliburkan sekolah di tengah darurat asap. Redaksi


