MERANGIN, NEWSIAN.ID – Praktik kotor penyalahgunaan barcode MyPertamina oleh oknum mafia Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi kian merajalela dan makin meresahkan masyarakat Kabupaten Merangin, Jambi. Ironisnya, aksi culas yang diduga melibatkan jaringan "orang dalam" ini tidak hanya merugikan pengendara biasa, tetapi sudah sampai pada tahap tidak berprikemanusiaan: Mobil Ambulan penolong umat pun ikut jadi korban!
Jeritan dan kekesalan masyarakat ini pecah di jagat media sosial Facebook setelah sebuah mobil Ambulan kepergok gagal mengisi BBM subsidi jenis Pertalite di SPBU 23-373-06 yang berlokasi di Desa Tambang Baru, Kecamatan Tabir Lintas, Kabupaten Merangin.
Usut punya usut, kuota harian barcode MyPertamina milik mobil ambulan tersebut kedapatan sudah ZONK alias habis dikuras oleh pencuri kuota misterius sebelum mobil tersebut sampai ke nozzle pengisian.
Seorang warga netizen dengan nada geram menuliskan cuitannya di Facebook, meminta perhatian serius dari aparat penegak hukum dan pihak Pertamina Regional Sumbagsel.
"Tolong Pimpinan SPBU ini.. Tindak tegas Operator Pengisian Minyak ke mobil... mobil ini Ambulans Umat.. Karena sudah merugikan kami... Ini sudah yang ke 3 kali tidak bisa mengisi BBM di SPBU karena sudah dihabiskan oleh Pencuri ngisi minyak Pertalite batas Maksimal.. Tolong jugo kalau ado yang kenal dengan manejemen SPBU ini bantu sampaikan," tulis warga dalam cuitannya yang viral.
Kejadian yang menimpa ambulan umat ini dinilai sudah di luar batas kewajaran. Bagaimana mungkin, identitas kendaraan publik yang krusial untuk menyelamatkan nyawa manusia bisa "ditembak" atau diduplikasi kodenya oleh oknum mafia jika tidak ada celah permainan sistem atau kerja sama busuk dengan oknum operator?
Modus operandi penggandaan atau penyalahgunaan barcode MyPertamina di wilayah Merangin disinyalir sudah menjadi rahasia umum. Para mafia BBM bersubsidi atau "pelangsir" diduga mengumpulkan data pelat nomor kendaraan roda empat milik warga, lalu mencetak barcodenya secara ilegal untuk mengeruk keuntungan pribadi dengan membeli Pertalite atau Solar dalam jumlah maksimal secara berulang-ulang.
Pertanyaan besar pun mengarah ke pihak manajemen SPBU 23-373-06 Desa Tambang Baru. Mengapa pengawasan begitu longgar? Mengapa operator di lapangan meloloskan kendaraan yang jelas-jelas tidak sesuai antara fisik mobil dengan data yang tertera di monitor MyPertamina saat dipindai?
Masyarakat mendesak agar pimpinan SPBU tidak sekadar memberikan sanksi administratif, melainkan memecat dan memenjarakan oknum operator yang terbukti bermain mata dengan para "pencuri" kuota BBM subsidi tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen SPBU 23-373-06 Desa Tambang Baru maupun pihak Pertamina belum memberikan keterangan resmi terkait bobolnya kuota barcode milik Ambulan Umat tersebut. Masyarakat Merangin meminta Polres Merangin dan pihak Pertamina segera turun gunung melakukan sidak dan menindak tegas jaringan mafia barcode yang menyengsarakan rakyat kecil ini. (Red)







