EDITORIAL NEWSLAN.ID JAMBI. Di era keterbukaan informasi seperti saat ini, masyarakat Indonesia—khususnya warga Provinsi Jambi—makin cerdas dan kritis. Masyarakat tidak lagi mudah terbuai oleh deretan statistik manis atau klaim keberhasilan di atas kertas jika kenyataan di lapangan berkata lain. Sayangnya, praktik lama bernama "Asal Bapak Senang" (ABS) tampaknya belum sepenuhnya hengkang dari balik meja birokrasi dan panggung politik kita.
Budaya ABS adalah racun bagi pembangunan. Ketika pejabat publik hanya menerima laporan yang "indah-indah saja" dari bawahannya, celah ketimpangan, lambatnya pembangunan infrastruktur, hingga persoalan kesejahteraan rakyat justru terabaikan. Pencitraan yang dipoles sedemikian rupa mungkin bisa memenangkan opini sesaat, tetapi tidak akan pernah mampu memperbaiki jalan yang rusak, menuntaskan masalah kemiskinan, atau menyelesaikan konflik agraria yang kerap membelit warga di daerah.
Masyarakat Jambi hari ini tidak butuh panggung sandiwara. Yang dibutuhkan adalah keberanian para pimpinan dan pelayan publik untuk menatap realita secara jujur. Mengakui adanya kekurangan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah awal dari sebuah perbaikan yang nyata. Tranparansi anggaran, keterbukaan data pembangunan, serta ruang dialog yang jujur antara pemerintah dan warga harus dibuka selebar-lebarnya.
Sebagai media, newslan.id Jambi berkomitmen untuk terus berdiri di garis terdepan menyuarakan fakta apa adanya. Kami meyakini bahwa fungsi pers bukan untuk menjadi pemandu sorak kekuasaan, melainkan sebagai penyeimbang dan penyambung lidah publik. Sudah saatnya kita mengubur rapat-rapat budaya ABS dan menggantinya dengan budaya akuntabilitas serta kerja nyata. Sebab, rakyat tidak butuh pencitraan; rakyat butuh bukti dan transparansi.


