MERANGIN NEWSLAN.ID — Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Merangin, dan Provinsi Jambi pada umumnya, bagaikan penyakit menahun yang tak kunjung sembuh. Berbagai razia dan imbauan kerap dilempar ke publik, namun mesin-mesin domping di pelosok sungai dan hutan tetap saja menderu tanpa henti.
Padahal, jika jujur ingin menyelesaikan masalah ini, kuncinya sangat sederhana dan ada di depan mata: tutup total jalur distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) ilegalnya.
Tanpa pasokan solar, mesin-mesin pengeruk bumi itu otomatis mati total. Sederhana, presisi, dan dijamin ampuh. Namun pertanyaan besarnya: Mengapa langkah ini tak kunjung dilakukan secara konkrit?
Pembiaran atau Ketidakmampuan?
Di sinilah pertaruhan keseriusan tiga pilar utama: Pemerintah Daerah (Pemda) Merangin, Pertamina, dan Aparat Penegak Hukum (APH).
Masyarakat setiap hari disuguhi pemandangan yang menggelitik akal sehat. Ratusan mobil pickup yang diduga kuat mengangkut BBM ilegal hilir mudik dengan leluasa melintasi jalanan Merangin. Di sisi lain, pemandangan semrawut dan antrean mengular di SPBU—khususnya yang menyediakan Bio Solar—sudah jadi tontonan harian.
Apakah lalu lintas BBM ilegal dan kesemrawutan SPBU ini tak terlihat oleh mata petinggi daerah dan aparat? Atau jangan-jangan, ada mata yang sengaja dipejamkan dengan alibi klasik: "memberi ruang rakyat mencari makan"?
Alibi "Cari Makan", Reality "Cari Pajero"
Alasan "mencari makan" sudah terlalu rapuh dan basi untuk dijadikan tameng. Seloroh dan sindiran tajam dari masyarakat justru membongkar tabir hipokrisi di balik fenomena ini: "Alibinya cari makan, padahal cari Pajero."
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa antrean Bio Solar di SPBU kerap dikuasai oleh sekelompok pelangsir terorganisir. Mereka meraung-raung mengatasnamakan urusan perut dan rakyat kecil. Namun, jika kita menengok ke balik layar, siapa pemilik sebenarnya dari armada langsir dan bisnis pasokan BBM ilegal tersebut?
Mereka bukan masyarakat miskin yang bingung besok mau makan apa.
Mereka adalah cukong dan pemain yang di garasinya nongkrong Innova, Fortuner, hingga Pajero.
Sangat ironis ketika BBM bersubsidi yang sejatinya hak masyarakat kurang mampu dan sektor produktif kecil, justru ditiup habis oleh mafia pelangsir demi memberi "makan" mesin-mesin PETI dan mempertebal kantong para pemilik mobil mewah.
Ketegasan yang Ditunggu
Editorial Newslan.id menegaskan bahwa pembiaran terhadap distribusi BBM ilegal untuk PETI bukan lagi sekadar kelalaian administratif, melainkan bentuk pembiaran yang merusak tatanan ekonomi masyarakat dan kelestarian lingkungan Merangin.
Kami mendesak:
APH dan Polresta Merangin: Segera sweeping dan tindak tegas jalur-jalur distribusi BBM ilegal serta armada pickup nakal tanpa pandang bulu.
Pertamina: Ambil tindakan keras terhadap SPBU nakal yang bermain mata atau membiarkan praktik pelangsiran merajalela.
Pemda Merangin: Berhenti bersembunyi di balik narasi "urusan perut rakyat" dan mulailah mengambil langkah regulasi yang nyata.
Jangan biarkan hukum kalah oleh alibi palsu. Sudah saatnya keran BBM ilegal ditutup rapat. Sebab, jika BBM mati, PETI pasti berhenti!



