Merangin Newslan.id Status UNESCO Global Geopark (UGG) adalah sebuah kehormatan sekaligus beban tanggung jawab besar. Ketika tim evaluator UNESCO datang untuk menilai kelayakan suatu kawasan, harapan masyarakat sederhana: pemerintah daerah menunjukkan potensi terbaiknya secara jujur, sembari memperlihatkan komitmen untuk menjaga keaslian alam yang menjadi fondasi gelar bergengsi tersebut.
Namun, keputusan untuk tidak mengajak tim evaluator menelusuri sepanjang Sungai Merangin—jantung utama dari Geopark Merangin itu sendiri—menimbulkan tanda tanya besar dan aroma kecurigaan yang menyengat. Mengapa "menu utama" dari geopark ini justru dilewati begitu saja?
Apakah ada kekhawatiran bahwa keelokan fosil flora purba berusia ratusan juta tahun di sepanjang tepi sungai kini telah tertutup oleh bayang-bayang kerusakan lingkungan?
Menyusuri Sungai Merangin dengan arung jeram seharusnya menjadi highlight dari seluruh rangkaian evaluasi. Di sinilah letak keunikan utama Merangin yang tidak dimiliki daerah lain: fosil-fosil purba yang menempel di dinding batuan sungai, terpapar secara alami oleh aliran air.
Jika jalur sungai ini sengaja dihindari dari rute pemantauan, wajar jika publik berasumsi ada hal yang berusaha disembunyikan. Maraknya aktivitas tambang emas tanpa izin (PETI), ancaman pencemaran air, hingga perambahan kawasan sekitar sungai bukanlah rahasia umum lagi bagi warga lokal. Alam Merangin yang dulunya perawan kini menyiarkan kepiluan akibat keserakahan manusia.
Menjauhkan tim evaluator dari realitas sungai mungkin bisa menyelamatkan angka pada lembar penilaian jangka pendek. Namun, tindakan ini merusak esensi paling mendasar dari Geopark: konservasi dan kejujuran.
Potensi Dampak
Ilusi Keberhasilan: Mendapatkan atau mempertahankan status UNESCO dengan cara "memoles" rute kunjungan hanya menciptakan kebanggaan semu.
Pengabaian Masalah Utama: Tanpa adanya catatan kritikal dari penguji internasional mengenai kondisi sungai, pemerintah daerah berisiko kehilangan 'alasan kuat' atau desakan politik untuk menindak tegas pelaku pengerusakan lingkungan di sepanjang Sungai Merangin.
Kerugian Bagi Masyarakat: Status UGG sejatinya bertujuan untuk memberdayakan ekonomi warga lokal (melalui geotourism). Jika sungai rusak dan fosil hancur, industri pariwisata arung jeram yang selama ini menghidupi warga setempat juga akan mati dalam jangka panjang.
Geopark bukan sekadar piala bergilir atau papan nama megah untuk ajang pencitraan birokrasi. Nilai tertinggi dari sebuah Geopark terletak pada keterpaduan antara warisan geologi (geodiversity), keragaman hayati (biodiversity), dan kebudayaan (cultural diversity) yang dijaga kelestariannya.
Pemerintah Daerah dan Badan Pengelola Geopark Merangin tidak boleh terus-menerus main "petak umpet" dengan fakta di lapangan. Daripada menghabiskan energi untuk menyembunyikan bagian yang rusak, energi tersebut seharusnya dikerahkan untuk memberantas pembalakan dan tambang ilegal, menata kembali bantaran sungai, serta merangkul masyarakat untuk menjaga warisan dunia ini.
Jika Sungai Merangin yang menjadi sang primadona saja tidak berani ditampilkan apa adanya, lantas apa yang sebenarnya sedang kita rayakan dari gelar UNESCO tersebut?


