MERANGIN NEWSLAND.ID – Dalam setiap penertiban atau polemik Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI), satu alibi klasik selalu digelorakan dengan nyaring: "Kami hanya mencari makan, mencari sesuap nasi."
Sekilas, narasi ini terdengar humanis. Siapa yang tega melarang rakyat kecil mengisi perutnya? Namun, jika digali lebih dalam, ini adalah propaganda pembodohan yang secara masif dihembuskan oleh para cukong dan toke modal.
Topeng Kemanusiaan di Balik Kerakusan
Mencari makan adalah hak setiap manusia dan tidak ada yang salah dengan itu. Namun, memoles aktivitas perusakan alam berskala besar dengan dalih "perut lapar" adalah sebuah kebohongan publik.
Rakyat pekerja mungkin menangis mencari makan, tetapi para cukong dan pemodal menang tertawa menimbun kekayaan.
Eksploitasi, Bukan Kelangsungan Hidup: Aktivitas PETI hari ini tidak lagi menggunakan dulang kayu tradisional. PETI modern bergerak menggunakan alat berat, mesin dompeng, hingga zat beracun seperti merkuri dan sianida. Ini bukan lagi dinamika bertahan hidup (survival), melainkan ekspansi bisnis ilegal untuk memburu kekayaan secara instan.
Masyarakat Dijadikan Tameng: Para cukong dengan cerdik berlindung di balik ketiak warga lokal. Rakyat kecil dijadikan benteng hidup saat berhadapan dengan hukum, sementara hasil emas bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah mengalir deras ke kantong para bos modal.
Bencana Mengintai, Anak Cucu yang Menanggung Warisan Rusak
Alasan mencari makan tidak pernah bisa dibenarkan jika cara yang ditempuh merampas masa depan generasi mendatang. Dampak ekologis dari PETI tidak memilih korban:
Sungai yang Mati dan Beracun: Merkuri mencemari aliran air, merusak ekosistem, dan mengancam kesehatan masyarakat jangka panjang.
Ancaman Bencana Ekologis: Banjir bandang dan tanah longsor tinggal menunggu waktu akibat hilangnya resapan air dan rusaknya struktur tanah.
Masa Depan yang Tergadai: Ketika kekayaan laut dan hutan hancur, anak cucu kita kelak tidak lagi menerima warisan alam yang subur, melainkan tanah tandus beracun yang menyisakan penderitaan.
Stop Alibi Klasik, Tegakkan Kelestarian
Sudah saatnya masyarakat sadar dan tidak lagi mau terkooptasi oleh mindset pembodohan para cukong.
Mencari makan itu fitrah, merusak lingkungan itu kejahatan.
Jangan pernah pertukarkan kelestarian bumi dan masa depan anak cucu demi menutupi keserakahan segelintir pemodal yang bertopengkan "alibi perut lapar".
Jika alam ini hancur, uang hasil emas tidak akan pernah bisa membeli kembali sungai yang bersih dan tanah yang aman dari bencana. Stop narasi sesat, selamatkan lingkungan sekarang juga
Penerbit: Newsland.id



