Oleh: Sukarlan
Merangin Newslan.id. Zaman sekarang, sepertinya jempol sebagian netizen kita bergerak jauh lebih cepat daripada kerja otaknya. Coba Anda intip kolom komentar di media sosial atau portal berita online. Pemandangannya hampir selalu sama dan bikin elus dada: ribuan orang saling hujat, mencaci-maki, dan berdebat kusir sampai bawa-bawa urusan personal, padahal hal yang mereka debatkan itu sudah dijawab dengan sangat gamblang di dalam isi artikel.
Sungguh sebuah ironi yang menggelitik sekaligus memprihatinkan. Penyakit sosial baru kita hari ini adalah komplikasi antara malas membaca secara utuh, digabung dengan sindrom "merasa paling tahu," lalu dibumbui dengan hobi baru: cepat ngeyel dan hobi bertanya tanpa mau berusaha mencari tahu sendiri. Padahal, petunjuknya tertulis jelas di depan mata.
Kasus paling receh tapi sering bikin geleng-geleng kepala adalah fenomena belanja online. Di foto produk sudah tertulis besar-besar: "HARGA Rp 50.000, UKURAN XL, WARNA HITAM." Tapi apa yang terjadi di kolom komentar? Barisan netizen dengan kompaknya bertanya: "Harganya berapa, Min?", "Ada warna apa aja?", atau yang lebih parah langsung menghardik, "Penjual penipu, ukurannya apa gak jelas!"
Kalau untuk urusan jual beli saja kita sudah malas membaca, bayangkan bagaimana jadinya jika masyarakat kita dihadapkan pada isu-isu nasional yang menyangkut kebijakan publik, politik, ekonomi, atau hukum?
Masyarakat kita sebenarnya bukannya buta aksara. Kalau disuruh membaca pesan WhatsApp grup yang berisi gosip selebritas atau berita miring tentang tetangga sebelah, kita semua pasti kuat membaca sampai tuntas. Masalah utamanya ada pada ketidaksabaran mental dan hilangnya daya fokus untuk mencerna informasi yang berbobot secara lengkap. Kita sudah terbiasa dimanjakan oleh konten-konten instan yang serba cepat, hingga akhirnya kita kehilangan kemampuan untuk melakukan deep reading atau membaca mendalam.
Kita sering kali terjebak menjadi pembaca permukaan. Begitu melihat judul yang sedikit bombastis atau provokatif, adrenalin kita langsung terpacu. Tanpa memedulikan apakah isi artikelnya searah dengan judul atau tidak, kita langsung melompat ke kesimpulan sepihak. Setelah itu, dengan penuh rasa percaya diri yang tinggi, kita mulai mengetik argumen panjang lebar di kolom komentar untuk menyerang orang lain.
Ada sebuah tamparan keras untuk kebiasaan kita ini: sebagian besar dari kita hari ini membaca bukan untuk mengerti dan memahami, melainkan hanya untuk mencari celah agar bisa mendebat. Kita sudah kehilangan kemewahan untuk duduk tenang, menyerap informasi secara utuh, menyaringnya dengan logika, dan memikirkannya baik-baik sebelum membuka suara atau menekan tombol kirim.
Bahaya terbesar dari kebiasaan membaca setengah-setengah adalah munculnya ilusi pengetahuan. Kita merasa sudah tahu segalanya dan merasa paling benar, padahal kita baru menyentuh "kulit luar" yang bisa jadi sengaja dipelintir oleh pembuat berita.
Dampak dari penyakit malas membaca ini tidak main-main. Ruang publik digital kita akhirnya menjadi sangat bising, berisik, dan penuh dengan polusi informasi. Perdebatan yang terjadi tidak lagi sehat karena tidak berbasis pada data ilmiah, melainkan hanya saling adu otot dan ego masing-masing. Di sinilah alasan mengapa hoaks, disinformasi, dan fitnah sangat mudah menyebar di Indonesia. Penyebabnya sederhana: karena ribuan orang dengan sukarela membagikan (share) sebuah tautan berita hanya karena terpicu oleh judulnya, tanpa pernah membuka dan membaca isinya sama sekali.
Menumbuhkan kembali budaya membaca secara utuh ini tentu tidak perlu dimulai dengan memaksa diri melahap buku-buku filsafat yang tebalnya ratusan halaman. Kita bisa memulainya dari latihan disiplin kecil di kehidupan sehari-hari kita terlebih dahulu.
Cobalah berkomitmen pada diri sendiri: sebelum tangan kita gatal untuk menekan tombol share, atau sebelum jempol kita mulai mengetik kalimat bantahan di kolom komentar, selesaikan dulu membaca artikel atau tulisan tersebut sampai ke titik terakhir. Cari tahu apa argumen utamanya, pahami konteksnya, dan cek apakah ada penjelasan tambahan di paragraf-paragraf bawah.
Mari kita latih kembali otot kesabaran dan etika kita dalam berinternet. Menjadi orang yang kritis dan vokal itu tentu sangat baik, tetapi menjadi bijak dengan memahami seluruh benang merah masalah secara utuh jauh lebih menyelamatkan kita dari rasa malu di ruang digital. Jangan sampai kita terus-menerus memelihara mentalitas memalukan ini: "baru membaca setengah paragraf, tetapi marahnya sudah sampai satu kecamatan."



