JAMBI, NEWSLAN.ID ā Sebuah tamparan keras menghantam wajah Kepolisian Daerah (Polda) Jambi. Belum sempat pasukan diturunkan untuk memberantas sarang Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI), rencana operasi kepolisian yang bersifat RAHASIA NEGARA justru bocor brutal dan menjadi konsumsi publik di platform TikTok hingga Facebook. Skandal memalukan ini memicu kemarahan publik yang luar biasa dan menguatkan dugaan bahwa institusi polri di Jambi telah disusupi oknum-oknum pengkhianat yang menjadi "backing" abadi bisnis haram tersebut.
Dokumen sensitif yang tersebar luas tersebut adalah Nota Dinas Biro Operasi Polda Jambi dengan nomor mentereng: B/ND-643/VIII/OPS.1.3./2026/Roops. Dalam surat tertanggal Agustus 2026 itu, tertera jelas permohonan penunjukan personel untuk menggelar razia besar-besaran penertiban PETI selama 15 hari penuh, terhitung mulai tanggal 26 Agustus hingga 9 September 2026. Operasi ini ditargetkan menghancurkan aktivitas PETI di tiga kabupaten lumbung emas ilegal: Sarolangun, Merangin, dan Bungo.
Namun, belum kering tinta tanda tangan di surat tersebut, dunia maya Jambi gempar. Tangkapan layar Nota Dinas itu beredar masif bak virus. Lebih parah lagi, kebocoran ini langsung direspons oleh para pelaku tambang ilegal. Sebuah video viral menunjukkan alat berat excavator berbondong-bondong berhenti beroperasi dan ditarik mundur. Di video tersebut, pengunggah menyertakan peringatan jumawa:
"Info buat semua PETI mulai tgl 27 sampai 09 Razia besar-besaran, Kita tiarap dulu sampai jumpa episode berikutnya."
Kebocoran transparansi dokumen internal penegakan hukum ini adalah sebuah tragedi bagi penegakan hukum di Jambi. Hal ini secara transparan menguatkan spekulasi menahun di masyarakat bahwa razia PETI yang berkali-kali dilakukan hanyalah SANDIWARA FORMALITAS. Masyarakat kini mempertanyakan kredibilitas dan integritas tertinggi institusi Polda Jambi. Kerahasiaan tugas negara yang vital justru tersebar secara terbuka, seolah-olah polisi memberikan waktu bagi mafia untuk mengamankan aset sebelum razia datang.
Isu keterlibatan oknum anggota kepolisian yang disinyalir menjadi "backing" setia atau pemberi bocoran (whistleblower) kepada para mafia penambang ilegal kini tidak bisa lagi dianggap angin lalu. Public distrust (ketidakpercayaan publik) terhadap Polda Jambi berada di titik terendah.
Newslan.id Jambi, sebagai suara tepercaya masyarakat, mendesak Kapolda Jambi, Inspektur Jenderal Polisi Krisno Halomoan Siregar, dan Bidang Propam Polda Jambi untuk tidak sekadar "prihatin". Publik menuntut tindakan nyata, tegas, dan berdarah-darah untuk membersihkan internal korps:
Investigasi Internal 'Tanpa Belas Kasihan': Lakukan pemeriksaan intensif, acak, dan menyeluruh terhadap alur pendistribusian Nota Dinas internal tersebut. Gunakan metode investigasi modern untuk menemukan oknum penjahat berseragam yang menyebarkan dokumen confidential ini.
Sanksi Pemecatan dan Pidana Mati Integritas: Berikan sanksi etik terberat: PEMECATAN TIDAK DENGAN HORMAT (PTDH) dan lanjutkan ke proses pidana umum apabila terbukti ada oknum anggota Polri yang membocorkan rahasia dinas serta membentengi operasi PETI. Tidak ada tempat bagi pengkhianat di tubuh Polri!
Evaluasi Total Strategi: Tangkap 'Bos Besar', Jangan Cuma 'Kroco': Ubah strategi operasi penertiban PETI secara total. Jika operasi ini gagal karena kebocoran, maka operasi selanjutnya harus menargetkan dalang utama, pemilik alat berat, dan penampung emas ilegal, bukan sekadar buruh dompeng di lapangan.
Polda Jambi harus memilih: Membersihkan diri dan meraih kembali kepercayaan rakyat, atau terus menjadi bahan tertawaan para mafia tambang ilegal. Redaksi.
#PoldaJambiBocor #PETIJambi #OknumPolisiBacking #JusticeForJambi #Newslan.idHeadline


