Ponorogo Newslan.id. Nama beliau, KH Hasan Abdullah Sahal, sedang menjadi perhatian dan ramai diperbincangkan di dunia maya.
Bukan semata-mata karena namanya besar, bukan pula karena ingin mencari pujian. Tetapi karena ada keberanian yang semakin jarang kita temukan: berani menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa.
Sebab berkata benar kepada orang biasa mungkin tidak terlalu berat. Namun menyampaikan nasihat di hadapan orang yang memiliki kekuasaan, kedudukan, dan pengaruh, membutuhkan hati yang tidak mudah gentar.
Seorang ulama sejatinya bukan hanya pandai berbicara di atas mimbar, tetapi juga harus mampu menjaga amanah ilmu ketika berhadapan dengan kekuasaan.
Penguasa membutuhkan nasihat yang jujur, bukan sekadar tepuk tangan. Rakyat membutuhkan pemimpin yang mau mendengar, bukan hanya orang-orang yang selalu membenarkan.
Dari sini kita belajar sebuah renungan:
Jangan sampai ilmu tunduk kepada kekuasaan. Jangan sampai kebenaran dikalahkan oleh kepentingan. Dan jangan sampai seorang yang diberi amanah ilmu justru takut menyampaikan nasihat ketika kebenaran harus ditegakkan.
Kekuasaan akan berganti, jabatan akan berakhir, harta akan ditinggalkan. Tetapi kata-kata kebenaran yang disampaikan dengan ikhlas dapat menjadi nasihat yang terus hidup.
Pada akhirnya, ulama tidak perlu ditakuti karena kedudukannya, dan penguasa tidak perlu disanjung karena kekuasaannya.
Sebab di hadapan Allah, yang membedakan manusia bukan tinggi rendahnya jabatan, melainkan iman, takwa, amanah, dan pertanggungjawaban atas apa yang telah diperbuat.
Kebenaran memang tidak selalu nyaman didengar. Tetapi terkadang, justru kalimat yang paling pahit itulah yang paling kita perlukan untuk menyelamatkan diri.
Cekgu RI

