NEWSLAN.ID | TANGERANG – Memiliki gelar sarjana kini tak lagi menjadi jaminan mudah mendapatkan pekerjaan di Indonesia. Meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi yang tidak sebanding dengan kebutuhan dunia kerja membuat banyak sarjana harus memutar otak. Fenomena ini memaksa mereka menerima pekerjaan di luar bidang studinya atau bersaing super ketat di berbagai bursa kerja (job fair).
Kondisi miris ini mendapat perhatian serius dari Guru Besar Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Prof. Bagong Suyanto. Menurut pandangannya, badai pengangguran intelektual ini dipicu oleh fenomena skill mismatch, yakni ketidaksesuaian antara kompetensi yang dimiliki lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan riil industri modern.
Prof. Bagong menilai, saat ini institusi perguruan tinggi dan dunia kerja masih berjalan di jalur yang berbeda dan belum selaras. Akibatnya, tingginya tingkat pendidikan seseorang tidak lagi selalu berbanding lurus dengan peluang kerja maupun tingkat kesejahteraan yang akan didapatkan kelak.
Realitas pahit di lapangan tersebut terlihat jelas dalam perhelatan Job Fair Kota Tangerang 2026. Antrean mengular panjang dipenuhi oleh ribuan pencari kerja yang didominasi anak muda. Pemandangan menarik sekaligus mengharukan tampak di mana banyak orang tua yang rela ikut mengantre dan berpanas-panasan demi mendampingi anak-anak mereka sebagai bentuk dukungan moral.
Salah satunya adalah Retno, seorang ibu yang setia menemani putrinya, Anisa. Diketahui, Anisa merupakan lulusan Teknik Industri dari kampus ternama, Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, nama besar almamater tidak membuatnya instan mendapat kerja; ia harus tetap berjuang melamar pekerjaan bersama ribuan pencari kerja lainnya di lokasi.
Kepada awak media, Retno mengaku sengaja hadir langsung demi menguatkan mental sang anak di tengah persaingan dunia kerja yang dirasakannya semakin hari semakin berat dan kompetitif.
Sebagai informasi, dalam ajang tahun ini, Job Fair Kota Tangerang menyediakan sekitar 15.000 lowongan pekerjaan yang dibuka oleh 56 perusahaan. Menariknya, terdapat tren pergeseran kebutuhan tenaga kerja tahun ini, di mana sektor manufaktur mulai menurun dan beralih fokus ke bidang jasa, ritel, serta kuliner atau Food and Beverage (F&B).
(Red/Tim)



