JAMBI NEWSLAN.ID ā Belakangan ini muncul julukan baru yang disematkan kepada Al Haris, yakni "Bapak Batubara Jambi". Julukan tersebut merupakan opini atau penilaian dari sebagian masyarakat, sehingga bukan merupakan fakta yang telah terbukti ataupun gelar resmi.
Mengapa julukan itu muncul? Sebagian publik menilai bahwa pada masa kepemimpinan Al Haris, aktivitas angkutan batubara menjadi salah satu isu yang paling menonjol di Provinsi Jambi. Mulai dari kemacetan panjang, kerusakan jalan, persoalan keselamatan, hingga dampak lingkungan, membuat nama batubara seolah tidak pernah lepas dari dinamika pemerintahan daerah.
Di sisi lain, pemerintah provinsi juga telah berupaya mengatur tata kelola angkutan batubara melalui berbagai kebijakan, termasuk pengaturan jalur dan dorongan pembangunan jalan khusus. Karena itu, mengaitkan seluruh persoalan batubara hanya kepada satu sosok tentu merupakan penyederhanaan terhadap masalah yang melibatkan banyak pihak, mulai dari perusahaan, pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga aparat penegak hukum.
Justru, jika julukan "Bapak Batubara Jambi" terus berkembang di ruang publik, hal itu dapat menjadi sinyal bahwa masyarakat menginginkan solusi yang lebih nyata. Publik berharap batubara tidak lagi identik dengan kemacetan, jalan rusak, kecelakaan, maupun konflik sosial, melainkan mampu memberikan manfaat ekonomi yang seimbang dengan perlindungan terhadap kepentingan masyarakat.
Pada akhirnya, julukan apa pun yang diberikan masyarakat merupakan bagian dari kebebasan berpendapat. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah menjawab persepsi tersebut melalui kebijakan yang efektif, transparan, dan hasil yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Sebab dalam politik, gelar yang paling bertahan bukanlah yang dibuat oleh pendukung maupun pengkritik, melainkan yang dibentuk oleh rekam jejak dan kinerja.(Redaksi)



