JAKARTA NEWSLAN.ID — Belum juga kursi kepemimpinannya hangat, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono langsung menyajikan pembuktian yang tak sekadar tegas, melainkan menyengat. Tanpa manuver birokrasi yang membuang waktu atau retorika pemanis kata, kepemimpinan baru ini menyapu bersih 261 pegawai non-ASN dan mengeksekusi penutupan permanen atas 883 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai penjuru daerah.
Langkah radikal yang dieksekusi hanya dalam hitungan hari pasca-sertijab ini mengirimkan pesan yang amat lugas: BGN bukan lagi suaka bagi inefisiensi, apalagi panggung kompromi bagi standar pelayanan yang compang-camping.
Keputusan mendadak ini bak hantaman keras bagi internal BGN sekaligus panggung publik. Penutupan simultan terhadap 883 SPPG—ujung tombak penyaluran program gizi yang semestinya menjadi benteng utama—menyingkap tabir suram tentang betapa dalamnya kerusakan struktural yang selama ini dibiarkan mengendap.
Langkah pangkas habis ini menggarisbawahi tiga realitas pahit yang kini ditelanjangi:
Pembersihan Tanpa Pengecualian: Eksekusi masif terhadap ratusan SPPG menandakan audit internal menemukan indikasi fatal—mulai dari kegagalan standar higienitas mendasar, malpraktik tata kelola, hingga unit-unit 'fiktif' yang hanya hidup di atas kertas demi menyerap anggaran.
Eliminasi Beban Bebas: Pemecatan 261 pegawai non-ASN menunjukkan bahwa perombakan ini tidak segan menyasar elemen manusia. Mereka yang dinilai tidak kompeten, berkinerja mediocre, atau sekadar menjadi beban operasional langsung diamputasi dari sistem.
Standar Baru yang Tanpa Ampun: BGN di bawah kepemimpinan baru memilih meruntuhkan bangunan yang rapuh hingga ke fondasinya daripada memoles façade yang sudah terlanjur busuk.
Langkah dingin namun presisi ini menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem pemenuhan gizi nasional. BGN mempertegas batas: program gizi rakyat adalah amanat vital negara, bukan ajang bagi-bagi proyek atau tempat berlindung bagi pekerja yang hanya berniat menumpang hidup tanpa kontribusi.
Keputusan ekstrem ini memang menyisakan riak dan risiko guncangan layanan dalam jangka pendek. Namun, bagi BGN yang baru, memotong bagian yang membusuk adalah harga mutlak yang harus dibayar demi menyelamatkan integritas seluruh tubuh organisasi.
Redaksi



