Newslan-id Jakarta. Bus perintis tetap vital karena perannya sebagai satu-satunya transportasi murah yang menghubungkan desa terpencil dengan pusat ekonomi, mendukung distribusi hasil bumi, dan membuka akses layanan publik bagi masyarakat.
Pada tahun 2026, penyelenggaraan layanan angkutan jalan perintis di Provinsi Maluku Utara direncanakan berjumlah 15 lintasan trayek, sebagaimana tercantum dalam Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor KP-DRJD 5188 Tahun 2025 tentang Penetaan Jaringan Trayek Angkutan Orang yang Digunakan untuk Penyelenggaraan Angkutan Jalan Perintis Tahun 2026.
Adapun ke 15 trayek itu pulang pergi sejauh 1.804 km adalah Toliwang -Tobelo (104 km), Tobelo – Galela – Saluta – Tanjung Jere (184), Tobelo – Jikomoi (432 km), Pasar Fogi – Pelabuhan Fery Sanana (32 km), Weda – Kobe Sawai (36 km), Gorua – Berebere – Daruba (176 km), Wayabula – Daruba (96 km), Weda – Bisui (224 km), Pelabuhan Penyeberangan Rum – Terminal Sarimalaha (38 km), Bibinoi – Babang – Wayaua (100 km), Belangbelang – Labuha – Kubung (60 km), Terminal Transgoal – Terminal Jailolo – Desa Susupu (88 km), Kakaraino – Subaim (100 km) dan Terminal Fogi – Manaf (64 km) dan Tobelo – Trans Suka Maju (70 km).
Bus perintis yang beroperasi di Pulau Halmahera sebanyak (7 trayek) dengan (10 Armada Bus), juga melayani masyarakat di Pulau Sula (Pasar Fogi – Pelabuhan Fery Sanana dan Terminal Fogi – Manaf) Sebanyak (2 trayek) dengan (3 Armada Bus), Pula Bacan Bibinoi – Babang – Wayaua dan Belangbelang – Labuha – Kubung) sebanyak (2 trayek) dengan (3 Armada Bus), Pulau Morotai (Gorua – Berebere – Daruba dan Wayabula – Daruba) Sebanyak (2 trayek0 dengan (2 Armada Bus) dan Pulau Tidore (Pelabuhan Penyeberangan Rum – Terminal Sarimalaha) sebanak (1 trayek) dengan (1 Armada Bus).
Bus perintis yang beroperasi di Pulau Halmahera melayani 6 kawasan transmigrasi, seperti Transmigrasi Goal (Kab. Halmahera Barat), Kawasan Transmigrasi Sukamaju (Kab. Halmahera Utara) Transmigrasi Ekor dan Transmigrasi Subaim (Kab. Halmahera Timur), Transmigrasi Wairoro (Kab. Halmahera Tengah) dan Transmigrasi Nakamura (Kab. Pulau Morotai)
Target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2025 – 2029 adalah 45 kawasan transmigrasi. Adapun di Provinsi Maluku Utara ada 4 kawasan tramsigrasi terletak di Pulau Morotai (Kab. Morotai), Patlean (Kab. Halmahera Timur), Sagea Waleh (Kab. Halmahera Tengah), dan Pulau Bacan (Kab. Halmahera Selatan)
Selain di Pulau Halmahera, bus perintis juga dioperasikan di Pulau Sula (Kab. Kepulauan Sula), Pulau Morotai (Kab. Morotai) dan Pulau Bacan (Kab. Halmahera Selatan).
Infrastruktur transportasi yang memihak masyarakat juga hadir di luar Jawa. Jika di Jawa ada kereta khusus untuk petani dan pedagang, maka di Pulau Halmahera tersedia bus perintis. Bus ini beroperasi rutin setiap hari, berangkat seusai Sholat Subuh melayani rute lintas Transgoal – Jailolo dan membawa minimal tujuh warga Transmigrasi Goal ke Pasar Tradisional Jailolo.
Pembangunan Pasar Tradisional Jailolo telah terbangun di era Presiden Joko Widodo. Kondisi Pasar Tradisonal Jailolo masih terjaga rapi dan bersih. Penjual ada warga lokal dan juga warga transmigrasi sudah berlangsung lama. Warga transmigrasi membawa barang hasil pertanian, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Juga hasil industri rumah tangga, seperti tahu dan tempe. Omset penjualan itu bisa mencapai Rp 750 ribu per hari.
Bus perintis, selain membawa warga yang berjualan di pasar juga mengangkut sejumlah pelajar yang bersekolah di Kota Jailolo. Siang hari, bus perintis akan kembali mengangkut pelajar dan penjual di pasar ke Kawasan Transmigrasi Goal.















